Rabu, 02 November 2011

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN KONSUMSI OKSIGEN


       I.            JUDUL                                  :  Konsumsi Oksigen
    II.            TANGGAL PRAKTIKUM            : Rabu 12 Oktober 2011
 III.            TUJUAN                               :
a.       Mengetahui laju konsumsi oksigen dari beberapa hewan serangga.
b.      Membandingkan laju konsumsi oksigen pada serangga sejenis yang hidup di habitat alami dengan habitat terpolusi.
 IV.            PENDAHULUAN
Bernapas artinya melaksanakan pertukaran gas, yaitu mengambil oksigen (O2) dan mengeluarkan Karbondioksisa (CO2). Oksigen merupakan zat yang sangat penting untuk segenap kehidupan. Hewan dapat ber “puasa” tetapi oksigen harus tersdia terus. Kepompong kupu-kupu yang tampak tidak bergerak juga memerlukan oksigen, sehingga apabila sekelilingnya dilapisi cat, kepompong akan mati. Pertukaran gas O2 dengan CO2 dapat berlangsung melalui proses difusi. (Darmaji Gonarso,2005) Tetapi pada hewan berukuran besar, terutama pada hewan yang aktif, perbandingan antara luas dengan volume tubuh terlalu kecil untuk melakukan hal yang serupa, karenanya diperlukan suatu permukaan tubuh yang khusus untuk pernafasan, untuk menangkap O2 dan melepaska CO2. Alat-alat ini dapat berupa insang atau paru-paru atau saluran udara (trakea) atau bentuk lain yang dapat melangsungkan pertukaran O2 dengan CO2. Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam system table periodic yang mempunyai lambing O dan nomor atom 8, ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya. Pada tempratur dan tekanan standar, dua atom unsur ini berikatan menjadi oksigen, yaitu senywa gas diatomic dengan rumus O2 yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. (http://id.wikipedia.org/wiki/oksigen.)
Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok oksigen ke dalam tubuh serta membuang CO2 dari dalam tubuh. Respirasi ekternal sama dengan bernafas, sedangkan respirasi internal seluler ialah proses penggunaan oksigen oleh sel tubuh dan pembuangan zat sisa metabolisme sel yang berupa CO2, penyelenggaraan respirasi harus didukung oleh alat pernafasan yang sesuai yaitu, alat yang dapat digunakan oleh hewan untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya, alat yang dimaksud dapat berupa alat pernafasan khusus ataupun tidak. (Wiwi isnaeni, 2006).
Menurut logler (1977) konsumsi oksigen dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
·         Intensitas dari metabolisme oksidatif dalam sel
·         Kecepatan pertukaran yang mengkontrol perpindahan air disekitar insang yang berdifusi melewatinya
·         Factor internal yaitu kecepatan sirkulasi darah dan volume darah yang dibawa menuju insang
·         Afinitas oksigen dari haemoglobin.
Mekanisme respirasi meliputi proses:
a.       Inspirasi: peristiwa masuknya udara.
b.      Ekspirasi: peristiwa pengeluaran udara (CO2 dan H2O).
 Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidungMetabolisme adalah keseluruhan proses-proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Proses metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, Karena seluruh proses metabolisme selalu menggunakan katalisator enzim. Berdasarkan prosesnya metabolisme dibagi menjadi dua, yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme adalah suatu peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks, sementara katabolisme adalah reaksi pemecahan / pembongkaran senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah.
Pada hewan yang tingkat tropiknya lebih tinggi, memiliki peralatan khusus untuk menangkap O2 dan melepaskan CO2. Alat-alat ini dapat berupa insang atau paru-paru atau saluran udara (trakea) atau bentuk lain yang dapat melangsungkan pertukaran O2  dengan CO2. (Darmadi goenarso, 2005).
a.       Saluran pernapasan melalui permukaan tubuh dimana pertukaran gas terjadi misal pada protozoa hingga cacing tanah. 
b.      Pertukaran gas terjadi melalui pertukaran tubuh yang pipih, bentuk tubuh yang pipih meningkatkan rasio terhadap permukaan terhadap volume tubuh dan menurunkan jarak difusi keseluruh bagian tubuh, terdapat pada cacing pipih.
c.       Insang dalam yang dilengkapi dengan kapiler jaringan, terdapat sistem penyaluran air melalui permukaan insang; digunakan pada ikan.
d.      Insang luar, alat ini meningkatkan luas permukaan  dan alat ini tidak terlindungi sehingga mudah terluka, pertukaran ini dapat terjadi pada insang luar maupun bagian tubuh yang lain; misal dijumpai pada kecebong.
e.       Paru-paru yang dilengkapi dengan jaringan pembuluh darah, paru-paru merupakan  kantung yang berhubungan dengan faring, udara dihisap sehingga udara masuk dengan mekanisme ventilasi udara dijumpai pada vertebrata yang bernafas diudara.
f.       Pertukaran gas pada ujung-ujung yang lembut melalui trakea, cabng-cabang saluran ini menuju  ke berbagai bagian tubuh dan menembus ke berbagai jaringan, ditentukan pada serangga dan arthopoda (Darmadi goenarso, 2005).
Pusat kontrol pernafasan (breathing control center) manusia berlokasi di dua daerah di otak, yaitu media oblongata dan pons. Dibantu oleh pusat kontrol di pons, pusat medula menurunkan irama dasar pernafasan, ketika kita bernafas dalam-dalam, mekanisme umpan balik negatif mencegah paru-paru kita supaya tidak membesar secara berlebihan, sensor peregangan dalam jaringan paru-paru mengirimkan influs saraf kembali ke medula yang akan menghambat pusat kontrol pernafasan (Campbell, 2004).
Serangga merupakan hewan terestial yang tidak memiliki paru-paru tetapi menggunakan system trakea untuk pertukaran gas. Kulit pada serangga terletak dikedua sisi bagian toraks dan abdomen, memiliki sederatan paru-paru atau disebut juga spirakel, yang tersusun pada setiap segmen dan behubungan dengan system saluran trakea spirakel dilindungi katub atau rambut-rambut untuk mencegah evaporasi yang berlebihan lewat pori-pori ini. Trakea tersusun dengan teratur, sebagian berjalan longitudinal dan sebagian lagi tranpersal. Diameter trakea yang besar berkisar sekitar 1mm dan selalu terbuka dengan penebalan berbentuk spiral dan melingkar, terbentuk dari khitin yang keras, merupakan suatu bahan yang juga terdapat pada kutikula (Darmadi Goenarso,2005)
 Trakea merupakan invaginasi (lekukan kedalam)dari ectoderm dan umumnya mempunyai lubang keluar yang disebut spirakel. Bentuknya berupa pembuluh yang silindris yang mempunyai lapisan kitin (chitin). Lapisan kitin ini mempunyai penebalan seperti spiral. Spirakel terdapat sepasang tiap ruas tubuh yang kadang-kadang mempunyai katup untuk menjaga penguapan air. Trakea mempunyai cabang-cabang dan cabang yang terkecil yang menembus jaringan disebut trakeolus dengan diameter 1-24. Trakeolus tidak mempunyai lapisan kitin dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas, trakeolus pada serangga ujungnya buntu dan berisi udara atau kadang-kadang berisi cairan (Djamhur Winatasasmita, 1985)  
Alat pernapasan pada serangga berupa trakea, udar masuk dan keluar melalui lubang kerut yang disebut spirakel atau stigma yang terletak di kanan kiri tubuhnya. Dari stigma udara terus masuk ke pembuluh trakea memanjang dan sebagian ke kantung hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh. Pada system trakea ini pengangkutan oksigen dan karbon dioksida tidak memerlukan bantuan system transportasi khususnya darah. (Cartono,2005)
Fungsi spirakel dan trakea untuk memungkinkan lewatnya udara kepercabangan saluran yang disebut trakeol, yang merupakan saluran lembut intraseluler dengan diameter sekitar 1μm. Jumlahnya sangat banyak dan berada diberbagai jaringan, terutama otot. Berbeda dengan trakease, saluran-saluran lembut ini tidak dilapisi dengan kutikula, pertukaran gas terjadi dengan mudah melewati dinding saluran ini. System pernapasan pada serangga melalui sejumlah percabangan saluran udara pada system trakea. Oksigen langsung dibawa ke jaringan, jadi tidak dilaksanakan melewati aliran darah. Distribusi oksigen dan pengeluaran karbondioksida tidak dilakukan lewat system peredaran. Pada kebanyakan serangga dengan difusi saja sudah tercukupi oleh karena itu tubuh serangga pada umumnya berukurab kecil. Pada beberapa spesies difusi ini dibantu dengan gerakan ritmiks toraks atauabdomen. Cara mengalirkan udara (ventilsi) seperti itu, pada belalang spirakel dibuka dan ditutup bergantian, sehingga udara dapat masuk ke tubuh lewat spirakel toraks dan keluar tubuh lewat spirakel abdomen. Selain itu serangga dapat mengendalikan laju masuknya oksigen ke jaringan. Bila terjadi peningkatan otot (saat terbang ) akan terjadi penumpukan asam laktat di jaringan. Akibatnya tekanan osmosis cairan jaringan meningkat sehingga cairan di trakeol terserap masuk, sehingga jalan udara lebih leluasa mencapai jaringan dan difusi oksigen ke jaringan lebih cepat (Darmadi Goenarso dkk, 2005)





    V.            METODE PRAKTIKUM
a.       Alat dan Bahan
Alat
Bahan
1.      Respirometer
2.      Alat Timbang
3.      Pipet Tetes
4.      Stopwatch
1.      Hewan percoobaan (serangga)
2.      KOH / NaOH
3.      Eosin
4.      Vaselin


b.      Cara Kerja


 























 VI.            HASIL PENGAMATAN
Hewan Yang Di amati
Hewan yang Alami
Hewan yang terpolusi






Kelompok 1 (Jangkrik)








Kelompok 5 (jangkrik)






Kelompok 2 (Belalang)







Kelompok 6 (belalang)







                
                       Kelompok 3 (kecoa)

http://1.bp.blogspot.com/-jWgVIg_m7hM/Tpp7u3GFTMI/AAAAAAAAAB0/VX41cvsJVBo/s320/kecoa+terpolusi.jpg







Kelompok 7 (kecoa)






Kelompok 4 (Jangkrik)







Kelompok 8 (kecoa)

Ø  Kelompok 1 Jangkrik Pada Lingkungan Alami
No
Nama dan Gambar Hewan
Berat (gram)
Perhit skala per 5 menit
Vol rata2 per 5 menit
Laju konsmsi O2
1



Jangkrik 1



0,64
TO  = 0
T1 = 0,48
T2 = 0,49
T3 = 0,50
∆T1 = 0,48
∆T2 = 0,01
∆T3 = 0, 01

Rata-rata ∆T = 0,50:3=0,17
0,17 ml/ 0,64 gr/12 jam = 0,02ml/gr/jam
2



Jangkrik 2
0,40
TO  = 0
T1 = 0,54
T2 = 0,81
T3 = 0,90
∆T1 = 0,54
∆T2 = 0,27
∆T3 = 0,09

Rata-rata ∆T = 0,90:3=0,30
0,30 ml/ 0,40 gr/12 jam = 0,06ml/gr/jam
3

Jangkrik 3
0,50
TO  = 0
T1 = 0,30
T2 = 0,57
T3 = 0,68
∆T1 = 0,30
∆T2 = 0,27
∆T3 = 0,11

Rata-rata ∆T =0,68:3=0,27
0,27 ml/ 0,50 gr/12 jam = 0,05ml/gr/jam

Rata-rata keseluruhan          = (0,02+0,06+0,05)ml/gr/jam
                                                = 0,13/3
                                                = 0,04 ml/gr/jam

Ø  Kelompok 2 Belalang Pada Habitat Alami

No
Nama dan Gambar Hewan
Berat (gram)
Perhit skala per 5 menit
Vol rata2 per 5 menit
Laju konsmsi O2






1
Belalang 1
0,27
TO  = 0
T1 = 0,6
T2 = 0,9
T3 = 1,1
∆T1 = 0,6
∆T2 = 0,3
∆T3 = 0,2
∆T   = 1,1:3= 0.3666
0,3666ml/ 0.27gr/12 jam = 0,1125 ml/gr/jam
2
Belalang 2
0,3
TO  = 0
T1 = 0,54
T2 = 0,72
T3 = 0,8
∆T1 = 0,54
∆T2 = 0.18
∆T3 = 0.2
∆T = 0,8:3= 0,266
0,266 ml/ 0,3 gr/12 jam = 0,073 ml/gr/jam
3
Belalang 3
0,2
TO  = 0
T1 = 0,2
T2 = 0,39
T3 = 0,48
∆T1 = 0,2
∆T2 = 0,0
∆T3 = 0.09
∆T = 0,8:3= 0,396
0,396 ml/ 0,2 gr/12 jam = 0,165 ml/gr/jam

Rata-rata keseluruhan          = (0,1125+0,073+0,165)ml/gr/jam
                                                = 0,3505/3
                                                = 0,1168 ml/gr/jam
Ø   Kelompok 3 Kecoa Alami
No
Nama& Gambar hewan
Berat(gr)
Perhitungan skala per 5 menit
Volume konsumsi O2 rata-rata per 5 menit
Laju Konsumsi O2
(ml/gram/jam)
1
Kecoa 1

0,90
T0=0
T1=0,25
T2=0,53
T3=0,76
∆T1 = 0,25
∆T2 = 0,28
∆T3 = 0,23

Rata-rata
∆T=0,25+0,28+0,23
                3                  
     =0,25 ml
Laju konsumsi O2=

0,25ml x 1  jam
0,90 gr   12

= 0,02ml/gr/jam
2
Kecoa 2
0,58
T0=0
T1=0,45
T2=0,7
T3=0,95
∆T1 = 0,45
∆T2 = 0, 25
∆T3 = 0,58

Rata-rata
∆T= 0,45+0,25+0,58
                 3
     = 0,43 ml
Laju Konsumsi O2 =

0,43 ml x 1  jam
0,58 gr    12

= 0,06 ml/gr/jam
3
Kecoa 3
1,1
T0=0
T1=0,35
T2=0,65
T3=0,85
∆T1 = 0,35
∆T2 = 0,3
∆T3 = 0,2

Rata-rata
∆T = 0,35+0,3+0,2
                   3
      = 0,28 ml
Laju Konsumsi O2 =

0,28 ml  x 1  jam
1,1 gr      12

= 0,02 ml/gr/jam


Rata-rata laju konsumsi O2 keseluruhan = 0,02 + 0,06 + 0,02
                                                                                 3
                                                                 = 0,03 ml/gr/jam    

Ø  Kelompok 4 Jangkrik Pada Habitat Alami

No
Nama dan Gambar Hewan
Berat (gram)
Perhit skala per 5 menit
Vol rata2 per 5 menit
Laju konsmsi O2






1
Jangkrik 1

0,24
TO  = 0
T1 = 0,03
T2 = 0,15
T3 = 0,20
∆T1 = 0.03
∆T2 = 0,12
∆T3 = 0,05
∆T  =0,20:3= 0.06
0.06ml/ 0.24gr/12 jam = 0,02 ml/gr/jam
2
Jangkrik 2
0,3
TO  = 0
T1 = 0,19
T2 = 0,34
T3 = 0,42
∆T1 = 0,19
∆T2 = 0.15
∆T3 = 0.08
∆T = 0,42:3= 0,14
0,14 ml/ 0,3 gr/12 jam = 0,03 ml/gr/jam
3
Jangkrik 3
0,6
TO  = 0
T1 = 0,23
T2 = 0,45
T3 = 0,62
∆T1 = 0,23
∆T2 = 0,22
∆T3 = 0.17
∆T = 0,62:3= 0,20
0,20 ml/ 0,6 gr/12 jam = 0,02 ml/gr/jam
Rata-rata         = (0,02 +0,03 +0,02)ml/gr/jam
= 0,07/3
= 0,02  ml/gr/jam

Ø  Kelompok 5 Jangkrik Terpolusi

No
Nama dan Gambar Hewan
Berat (gram)
Perhit skala per 5 menit
Vol rata2 per 5 menit
Laju konsmsi O2






1
Jangkrik 1

0,73
TO  = 0
T1 = 0,41
T2 = 0,86
T3 = 1
∆T1 = 0.41
∆T2 = 0,45
∆T3 = 0,14
∆T  = 1:3= 0.33
0.33ml/ 0.73gr/12 jam = 0,037 ml/gr/jam
2
Jangkrik 2
0,76
TO  = 0
T1 = 0,39
T2 = 0,59
T3 = 0,71
∆T1 = 0,39
∆T2 = 0.2
∆T3 = 0.12
∆T = 0,71:3= 0,236
0,236 ml/ 0,76 gr/12 jam = 0,0258ml/gr/jam
3
Jangkrik 3
0,31
TO  = 0
T1 = 0,23
T2 = 0,45
T3 = 0,63
∆T1 = 0,23
∆T2 = 0,22
∆T3 = 0.18
∆T = 0,63:3= 0,21
0,21 ml/ 0,31gr/12 jam = 0,056 ml/gr/jam

Rata-rata             = (0,37 +0,0258 +0,056)ml/gr/jam
                            = 0,4518/3
                            = 0,1506  ml/gr/jam
Ø  Kelompok 6 Belalang Terpolusi
No
Nama hewan
Berat(gr)
Perhitungan skala per 5 menit
Volume konsumsi O2 rata-rata per 5 menit
Laju Konsumsi O2
(ml/gram/jam)
1
Belalang 1
0,26
T0=0
T1=0,21
T2=0,34
T3=0,37
∆T1 = 0,21
∆T2 = 0,13
∆T3 = 0,03

Rata-rata
∆T=0,21+0,13+0,03
                3                  
     =0,12 ml
Laju konsumsi O2=

0,12ml x 1  jam
0,26 gr   12

= 0,04ml/gr/jam
2
Belalang 2
0,29
T0=0
T1=0,23
T2=0,41
T3=0,55
∆T1 = 0,23
∆T2 = 0,18
∆T3 = 0,14

Rata-rata
∆T= 0,23+0,18+0,14
                 3
     = 0,18 ml
Laju Konsumsi O2 =

0,18 ml x 1  jam
0,29 gr    12

= 0,05 ml/gr/jam
3
Belalang 3
0,25
T0=0
T1=0,46
T2=0,75
T3=0,95
∆T1 = 0,46
∆T2 = 0,29
∆T3 = 0,2

Rata-rata
∆T = 0,46+0,29+0,2
                   3
      = 0,32 ml
Laju Konsumsi O2 =

0,32 ml  x 1  jam
0,25 gr      12

= 0,11 ml/gr/jam

Rata-rata laju konsumsi O2 keseluruhan = 0,04 + 0,05 + 0,11
                                                                                 3
                                                                 = 0,07 ml/gr/jam 
Ø  Kelompok 7 Kecoa terpolusi  
No
Nama Hewan
Berat (gram)
Perhitungan skala per 5 menit
Vol. rata2 per 5 menit
Laju konsmsi O2
1
Kecoa 1
0,13
TO = 0
T1 = 0,01
T2 = 0,012
T3 = 0,015
∆T1 = 0,01
∆T2 = 0,002
∆T3 = 0,003
Rata-rata ∆T = 0,015/3 = 0,005
0,005 ml/ 0,13 gr/12 jam = 0,0032 ml/gr/jam
2
Kecoa 2
0,33
TO = 0
T1 = 0,1
T2 = 0,12
T3 = 0,17
∆T1 = 0,1
∆T2 = 0,02
∆T3 = 0,05
Rata-rata ∆T = 0,17/3 = 0,056
0,056 ml/ 0,33 gr/12 jam = 0,014 ml/gr/jam
3
Kecoa 3
1,16
TO  = 0
T1 = 0,27
T2 = 0,39
T3 = 0,67
∆T1 = 0,27
∆T2 = 0,12
∆T3 = 0,28
Rata-rata ∆T = 0,67/3 = 0,22
0,22 ml/ 1,16 gr/12 jam = 0,015 ml/gr/jam
Rata-rata            = (0,0032 + 0,014 + 0,015) ml/gr/jam
                          = 0,032/3
                          = 0,01 ml/gr/jam
Ø  Kelompok 8  Kecoa Terpolusi                                                                
No
Nama dan Gambar Hewan
Berat (gram)
Perhit skala per 5 menit
Vol rata2 per 5 menit
Laju konsmsi O2
1
Kecoa 1
1,1
TO  = 0
T1 = 0, 18
T2 = 0, 32
T3 = 0,37
∆T1 = 0, 18
∆T2 = 0, 14
∆T3 = 0, 05
∆T = 0,37:3=0,123
0,123 ml/ 1,1 gr/12 jam = 0.09ml/gr/jam
2
Kecoa 2
0,3
TO  = 0
T1 = 0, 1
T2 = 0, 12
T3 = 0,15
∆T1 = 0, 1
∆T2 = 0, 02
∆T3 = 0, 03
∆T = 0,15:3=0,05
0,05 ml/ 0,3 gr/12 jam = 0,01ml/gr/jam
3
Kecoa 3
1,3
TO  = 0
T1 = 0, 48
T2 = 0, 71
T3 = 0,89
∆T1 = 0, 48
∆T2 = 0, 37
∆T3 = 0, 18
∆T = 1,03:3=0,34
0,34 ml/ 1,3 gr/12 jam = 0,02ml/gr/jam
Rata-rata             = (0,09+0,01+0,02)ml/gr/jam
                                = 0,12/3
                                =0,04 ml/gr/jam
VII.            PEMBAHASAN
Serangga merupakan hewan terestrial yang tidak memiliki paru-paru tetapi menggunakan system trakea untuk pertukaran gasnya. Kulit pada serangga, terletak di kedua sisi bagian toraks dan abdomen, memiliki sederetan pori-pori atau disebut juga spirakel, yang tersusun pada setiap segmen dan berhubungan dengan sistem saluran trakea. Spirakel dilindungi kutub atau rambut-rambut untuk mencegah evaporsi yang berlebihan lewat pori-pori ini.
Trakeae (jamak) tersusun dengan teratur, sebagian berjalan longitudinal (memanjang) dan sebagian lagi transversal (melintang). Diameter trakeae yang besar berkisar sekitar 1mm dan selalu terbuka dengan penebalan berbentuk spiral dan melingkar, terbentuk dari khitin yang keras, merupakan suatu bahan yang juga terdapat pada kutikula. Fungsi spirakel dan trakeae untuk memungkinkan lewatnya udara ke percabangan saluran yang disebut trakeol, yang merupakan saluran lembut intraselular dengan diameter sekitar 1μm. Jumlahnya sangat banyak dan berada di berbagai jaringan, terutama otot. Berbeda dari trakeae, saluran-saluran lembut ini tidak dilapisi kutikula; pertukaran gas terjadi dengan mudah melewati dinding saluran ini.
Sistem pernapasan serangga sangat berbeda dengan sistem pernapasan pada hewan lain. Melalui sejumlah percabangan saluran udara pada sistem trakea, oksigen langsung dibawa ke jaringan, jadi tidak dilaksanakan melalui aliran darah. Distribusi oksigen dan pengeluaran karbondioksida tidak dilakukan lewat sistem peredaran. Tapi melalui difusi, oleh karena itu tubuh serangga pada umumnya berukuran kecil. Namun, pada beberapa spesies, difusi ini dibantu dengan gerakan ritmis toraks atau abdomen. Cara mengalirkan udara (ventilasi) seperti itu, misalnya pada belalang yaitu spirakel dibuka dan ditutup bergantian, sehingga udara dapat masuk ke tubuh lewat spirakel toraks dan keluar lewat spirakel abdomen. Selain itu, serangga dapat mengendalikan laju masuknya oksigen ke jaringan. Bila terjadi peningkatan aktivitas otot (pada saat terbang), akan terjadi penumpukan asam laktat di jaringan. Akibatnya tekanan osmosis cairan jaringan meningkat hingga cairan di trakeol terserap masuk, sehingga jalan udara lebih leluasa mencapai jaringan dan difusi oksigen ke jaringan lebih cepat. (Darmadi goenarso, 2005).
Untuk menghitung laju konsumsi Oksigen tersebut, digunakan alat yang bernama Respirometer. Dengan respirometer laju konsumsi Oksigen bisa diketahui lewat cairan eosin yang dimasukkan ke dalam pipa respirometer. Karena hewan yang ada dalam tabung/botol respirometer hanya mengkonsumsi Oksigen yang ada dalam pipa, cairan eosin perlahan-lahan akan maju sesuai dengan pengambilan oksigen yang dilakukan hewan tersebut sehingga menunjukkan skalanya. Sedangkan hasil respirasi (CO2) yang dikeluarkan oleh hewan, diikat oleh KOH yang disimpan ditempat yang sama dengan hewan yang diuji, sehingga dalam botol maupun dalam pipa respirometer hanya ada oksigen saja. Dan untuk menghindari kebocoran, olesi dengan Vaseline sambungan antara botol dengan pipa respirometer, karena apabila bocor akan sangat berpengaruh kepada laju konsumsi oksigen dan bisa-bisa laju konsumsi yang dihitung itu tidak murni hasil respirasi hewan yang sedang diuji.
VIII.            PERTANYAAN
1.      Jelaskan sistem pernafasan pada serangga(dilengkapi gambar)
2.      Jelaskan prinsip kerja alat respirometer
3.      Buatlah grafik badan (gram) terhadap laju konsumsi o2(ml/gr/jam) untuk kelima serangga masing-masing habitat.
4.      Bandingkan kecendrungan laju konsumsi o2 serangga yang hidup dihabitat terpolusi dengan yang hidup dihabitat alami, berikan kesimpulan dari kedua grafik, sertakan asumsi ilmiah dari sumber literatur
5.      Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi pada hewan
Jawaban :
1.      Sistem pernafasan pada serangga mengenal dua sistem, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Digunakan alat/organ yang disebut spirakulum (spiracle), juga tabung-tabung trakhea dan trakheola. Tekanan total dari udara sebenarnya merupakan jumlah tekanan gas N2, O2, CO2 dan gas-gas lain. O2 sendiri masuk ke dalam jaringan dengan satu proses tunggal: adanya tekanan udara dalam jaringan. Tekanan O2 dengan demikian harus lebih besar daripada tekanan udara dalam jaringan, sebaliknya tekanan CO2 dalam jaringan harus lebih besar dibanding yang ada di udara.(lihat gambar sel respirasi). Laju diffusi diukur dengan rumus 1/d (sebagai suatu peristiwa diffusi pasif). Mekanisme pernapasan serangga yaitu Jika otot perut belalang berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga udara kaya CO2 keluar. Sebaliknya, jika otot perut belalang berelaksasi maka trakea kembali pada volume semula sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai akibatnya udara di luar yang kaya O2 masuk ke trakea.  Sistem trakea berfungsi mengangkut O2 dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan sebaliknya mengangkut C02 basil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, darah pada serangga hanya berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas pernapasan
2.      Respirometer bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernapasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme dan ada karbon dioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organisme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu dapat dicatat (diamati) pada pipa kapiler berskala.
3.      Garfik Perbandingan laju konsumsi O2 dari setiap serangga yang digunakan untuk praktikum
4.      Perbanding kecenderungan laju konsumsi O2 serangga yang hidup dihabitat terpolusi dengan habitat alami.

5.      Faktor-Faktor yang mempengaruhi proses respirasi :
a.       Usia
Perubahan Usia akan juga menyebabkan perubahan bentuk oragan, misalnya paru-paru yang sebelumya berisi cairan menjadi berisi udara. Misalnya juga pada orang, bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dadanya bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
b.      Suhu
Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat.
c.       StatusKesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh.
d.      Jenis kelamin
Pada Belalang betina dan belalang jantan memiliki kecepatan respirasi yang berbeda.
e.       Ketinggian
Ketinggian mempengaruhi pernapasan. Makin tinggi daratan, makin rendah O2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup belalang. Sebagai akibatnya belalang pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.
f.       Haemoglobin
Keberadaan pigmen haemoglobindalam darah mamalia dapt meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen secara bermakna. sebagai contoh, keberadaan pigmen haemoglobin dalm darah mamalia dapat meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah sebesar dua puluh kali lipat. Shingga setipa 100 ml darah dapat mengangkut 20 ml oksigen, sedangkan darah yang tidak mengandung pigmen haemoglobin hanya dapat mengangku 1ml  oksigen.
 IX.            DAFTAR PUSTAKA
ü  Campbell, jwrence G. Mitchell Neil A.2004. Biologi.edisi 5 jilid 3. Jakarta, erlangga
ü  Cartono, 2005. Biologi Umum Untuk Perguruan Tinggi LPTK, Bandung, Prime press
ü  Darmadi Goenarso, 2005. Fisiologi Hewan.UT
ü  Wiwi . Isnaeni.  2006. Fisiologi Hewan.  Yogyakarta : Kanisius.
ü  (http://aprianatitik.wordpress.com/arsip:)

0 komentar:

Poskan Komentar